
Gandeng DP3AKB Bojonegoro MI Irsyadusy Siap wujudkan Madrasah Ramah Anak

Bojonegoro – Yayasan Pendidikan Ahmad Diponegoro Ar Robbayani menjadi salah satu lembaga pendidikan yang turut bergerak aktif mendukung program pemerintah dalam membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) unggul di Bojonegoro. Melalui kegiatan Pembinaan Pencegahan Kekerasan dan Perkawinan Anak Menuju Standardisasi Madrasah Ramah Anak, Selasa (25/11/2025), Dinas Pemberdayaan Perempuan, Pelindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Bojonegoro memberikan berbagai materi strategis dalam upaya mewujudkan madrasah yang aman, sehat, serta bebas kekerasan.
Acara berlangsung Aula Pesantren I.T. Campus 2, Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, dan dihadiri 150 Peserta dari Forkopimcam Padangan, pimpinan lembaga, guru, tenaga pendidik, Paguyuban Orang tua siswa serta perwakilan santri dan siswa dari berbagai unit pendidikan di bawah yayasan, antara lain Pondok Pesantren Thoriqoh Irsyaduth Tholabah, Pesantren IT Campus 2, MI Irsyadusy Syubban, RA Irsyadusy Syubban, dan MDT Darussalam, perwakilan dari perguruan silat dan masyarakat sekitar.
Pernikahan Anak Bojonegoro Peringkat 6 Jatim
Dalam pemaparannya Dr. Ahmad Hernowo Wahyuutomo M.kes selaku Kepala Dinas DP3AKB Kabupaten Bojonegoro , disebutkan bahwa kasus pernikahan anak di Bojonegoro menempati posisi ke-6 tertinggi di Jawa Timur. Faktor-faktor yang memicu tingginya angka ini antara lain:
- Anak sudah terlanjur hamil
- Anak melakukan hubungan seksual berkali-kali
- Ketakutan keluarga akan kemungkinan anak melakukan zina
Dampak pernikahan anak dinilai sangat luas, termasuk tingginya angka perceraian di Bojonegoro yang juga berada di peringkat ke-6 se-Jawa Timur. Banyak kasus perceraian tersebut dipicu oleh judi online, belanja online, hingga pinjaman online, dan pada akhirnya anak selalu menjadi korban utama dari dampak perpisahan orang tua.
Wajib Belajar 12 Tahun Jadi Kunci Pencegahan
Salah satu solusi efektif yang terus didorong pemerintah adalah wajib belajar 12 tahun, yang sekaligus menjadi indikator penting dalam penerapan Madrasah Ramah Anak. Pendidikan minimal 12 tahun dinilai mampu mencegah pernikahan anak dan memberikan ruang tumbuh kembang yang lebih sehat bagi remaja.
Dr. Ahmad hernowo Wahyu Utomo M.kes yang juga pengurus PCNU Bojonegoro menegaskan bahwa usia ideal untuk memasuki pernikahan adalah minimal 20 tahun, ketika seseorang dinilai telah siap secara fisik, psikis, dan finansial untuk membina rumah tangga yang sehat.
Peran Madrasah: Sarpras, Lingkungan, dan KBM Ramah Anak
Untuk mewujudkan SDM unggul di Bojonegoro, madrasah memiliki peran vital melalui:
- Peningkatan sarana dan prasarana yang aman dan nyaman
- Lingkungan madrasah yang bersih, sehat, dan bebas kekerasan
- Proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang ramah anak, bebas bullying, dan menumbuhkan karakter positif
Bupati Bojonegoro melalui DP3AKB menegaskan komitmennya untuk memutus mata rantai kekerasan dan pernikahan anak sejalan dengan visi misi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro: Bahagia, Makmur, dan Membanggakan.
Komitmen Yayasan Ahmad Diponegoro Ar Robbayani
Pembina Yayasan Ahmad Diponegoro Ar Robbayani Gus Arya S.H. Affandi, S. Sy. M.Pd menyampaikan apresiasi kepada DP3AKB Kabupaten Bojonegoro yang telah memfasilitasi pembinaan. Menurutnya, kegiatan ini sejalan dengan visi yayasan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul dalam akademik dan keagamaan, tetapi juga aman dan ramah bagi seluruh peserta didik.
“Kami berkomitmen untuk menguatkan budaya positif di seluruh unit pendidikan yaitu . Perlindungan terhadap anak adalah prioritas utama. Harapannya, setelah pembinaan ini, Pesantren IT Campus 2, MI Irsyadusy Syubban, RA Irsyadusy Syubban, dan MDT Darussalam semakin memahami langkah-langkah konkret dalam pencegahan kekerasan dan perkawinan anak,” ujarnya.
Program Berkelanjutan dan Layanan 24 Jam
Kegiatan pembinaan ini bukan bersifat satu kali. DP3AKB menyatakan bahwa program akan berkelanjutan, termasuk bimbingan langsung ke berbagai lembaga pendidikan untuk memastikan implementasi Madrasah Ramah Anak berjalan optimal.
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Abdussalam Yusabh, sebagai bentuk harapan agar seluruh ikhtiar dalam melindungi anak-anak Bojonegoro diberkahi dan membawa manfaat luas bagi masyarakat.